Tradisi "ngurisan" atau cukur rambut bayi pada saat perayaan hari besar islam seperti pada peringatan isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW yang di digelar oleh Jamaah Masjid Nurul Islam Rensing Bat Kec. Sakra Barat Kab. Lombok Timur, pada hari Rabu, 19 Rajab 1434 H/ 29 Mei 2013 di manfaatkan oleh jamaah yang memiliki balita untuk ngurisan mengambil barakah dan didoakan oleh tuan guru.
Tradisi "Ngurisan" atau cukur rambut bayi
yang baru lahir atau berumur dibawah satu tahun bagi masyarakat Desa Rensing
Bat biasanya dilaksanakan di masjid atau musalla pada hari-hari besar agama
Islam, seperti peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan isra’ mi’raj
Nabi Muhammad SAW, peringatan nuzulul qur’an, hari lebaran idul fitri atau
lebaran idul adha atau pengajian-pengajian besar lainnya manakala para tuan
guru/orang alim datang ke tempat pengajian.
Sebelum acara pengajian isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW
(29/5) di Masjid Masjid Nurul Islam Rensing Bat, puluhan bayi digendong oleh orang
tua atau kerabatnya masing-masing di bawa ke masjid bersama dengan beberapa
jenis bunga,air kembang dan gunting.
Acara ngurisan biasanya diiringi dengan pembacaan
sholawat atau berzanji satu persatu bayi disodorkan kepalanya kepada dua tuan
guru yang hadir yakni TGH.M.Yusuf Makmun dan TG. Dr. H.M. Said Gazali,MA.
Tradisi ngurisan di masjid atau mushalla pada
acara-acara pengajian merupakan warisan nenek moyang untuk mengambil berkah, minta untuk didoakan dan menunjukkan kesyukuran kepada
Allah SWT, menurut salah seorang tokoh agama Desa Rensing Bat Ust. H. Zainal
Muttaqin bahwa kegiatan "ngurisan" yang digelar setiap sebelum
dimulainya acara pengajian merupakan kebiasaan yang sudah lama dilakukan hal
ini juga sangat meringankan bagi para orang tua yang memiliki bayi mungkin
kalau mengadakan sendiri di rumah dengan mengundang para tuan guru atau
masyarakat mungkin sangat sulit sehingga dengan memanfaatkan momentum hari
besar islam seperti isra’ mi’raj masyarakat bisa terbantu.
Masyarakat di Desa Rensing Bat setiap hari besar islam
selalu mengadakan kegiatan isra’ mi’raj secara tradisional di masjid kadang di
mushalla dengan mengundang para tuan guru untuk memberikan pengajian atau
tausyiah agama yang dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat,
biasanya setiap acara hari besar islam bagi ibu-ibu memanfaatkannya dengan “roah”
atau membawa dulang atau plastik berisi jajan tradisional ke masjid untuk
dibagikan kepada jamaah yang menghadiri pengajian. (nr-dien)
