Oleh : Nuruddin,S.Pd
Anak
adalah investasi masa depan yang setiap orang normal tentu ingin memiliki anak sebagai
penerus cita-cita orang tua disamping itu pula anak sebagai bumbu kebahagiaan
dalam rumah tangga pasangan suami
istri (pasutri) yang telah menikah. Kehadiran seorang
anak mendatangkan kebahagiaan sendiri dalam keluarga semakin banyak anak
semakin ramai dan hidup dalam keluarga tersebut. Kehadiran anak tekadang bisa menyenangkan
terkadang pula ada yang
menjengkelkan karena perilaku mereka. Kalau kita mendengar cerita-cerita orang
tua kita dulu, sebagian besar mempunyai anggota keluarga yang besar dan
perilaku anak-anakmereka patuh, tunduk dan hormat kepada orang tua. Namun di
zaman yang serba modern ini drastis mengalami banyak perubahan perilaku
anak-anak kita, kurang hormat terhadap orang tua, tidak mengindahkan panggilan
atau apa yang diperintahkan orang tua merupakan sebagian kecil prilaku anak
pada zaman ini meski ada juga yang sangat respect terhadap orang tuanya.
Perilaku
anak yang kerap membuat oraang tua jengkel menyebabkan oraang tua harus
marah-marah, memukul, serta mengeluarkan kata-kata yang kotor hanya untuk
membuat anaknya jadi baik dan penurut, namun malah sebaliknya anak-anak zaman
sekarang melihat sikap orang tuanya yang bersikap demikian, anak malah melawan
dan bertingkah diluar batas kewajaran.
Para
orang tua tidak sedikit
yang mengeluhkan perilaku anaknya dirumah yang selalu membuat perasaan oran tua
kecewa. Dalam kehidupan bertetangga saya kerap kali mendengar omelan-omelan
atapun kata-kata kotor yang keluar dari mulut orang tua, contoh saja si anak
gak mau mandi pagi sebelum berangkat kesekolah disini orang tua harus
ngomel-ngomel dulu dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk meminta anaknya
mandi, anak menangis sepulang main-main bersama temennya lagi-lagi orang tua
harus mengomeli anaknya dengan cacian yang tidak sepantasnya didengar sama
anak. Atau anak tidak mendengar perintah orang tua misalnya anak diminta untuk
mengambil atau membeli sesuatu lagi-lagi orang tua harus ribut didengar
tetangga mengomeli anaknya, kata-kata kotor terlontar bahkan pukulan pun
terpaksa harus bertindak hanya untuk mengajar anak agar tidak seperti itu lagi.
Kata-kata “ kamu anak memang anak pemalas”, “ kamu memang kurang ajar”, “dasar
! kamu ini anak nakal gak mau nurut apa kata ibu” itulah contoh kata-kata orang tua melihat
perilaku anaknya yang kurang baik.
Perilaku
orang tua untuk mendidik anaknya memang sering berupa kekerasan atau
mengeluarkan kata-kata kotor. Orang tua tidak pernah menyadari kata-kata yang
ia keluarkan menjadi bomerang bagi anaknya, bukannya mau berubah malah sebaliknya. Kata kotor yang diucapkan orang tua bagian
dari sebuah doa bahwa anaknya memang kotor seperti kata-kata yang dikeluarkan
oleh orang tua tersebut. Kata
–kata yang kotor yang dikeluarkan oleh ayah atau ibu secara tidak langsung
telah membentuk karakter dan berpikir anak secara negative, karena orang tualah
sebagai peletak batu pertama karakter dan pikiran anak, mereka berperan penting
dalam menanamkan nilai dasar yang berhubungan dengan diri sendiri dan dunia
luar. Ratu Elizabith II telah berkata :” kita belajar seperti kera yang
menyaksikan kebiasaan ibu bapaknya secara total”. Kita belajar dari orang tua
tentang kalimat dan artinya, ekpresi wajah, gerakan tubuh, memahami perasan,,
perbuatan prinsip, etika, agama dan keteladanan. Semua itu diguru dan ditiru
oleh anak karena orang tua adalah pendidik pertama di dunia ini.
Pada
hakekatnya anak terlahir dalam keadaan kosong dan fitrah, dia tidak mengerti
apapun kecuali orang tuanya lah yang telah mengisi otak dan pikirannya. Kalau
orang tua mengajak, membimbing anak-anaknya dengan sikap dan bahasa yang bagus
maka anak ini pasti akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan santun
budi bahasanya, namun kalau orang tua membimbing dengan menunjukkan sikap dan
bahasa yang kurang baik tentu akan berdampak pada perilaku anak tersebut. Maka
tak heran jika anak akan bersikap dan berkata kotor pula.
Orang
tua harus merepormulasi cara pandang
(persepsi) dan cara pikirnya terhadap anak-anaknya karena anggapan orang tua
inilah yang berbias pada prilaku anak.
Penelitian
Jack Confield dan Mark Victor seperti yang dikutif oleh Ibrahim Al Faqi dalam
bukunya Terapi Positip Thinking mengatakan bahwa dalam sehari rata-rata orang
berfikir sebanyak 60.000 kali. Jumlah sebanyak itu pula setipa hari menjadi
orientasi seseorang, bila seseorang berorientasi pada hal negative maupun
berpikir positif maka saat itu pula dibutuhkan file dan pemikiran yng tersimpan
di otaknya sebagai bagian dari berpikir 60.000 ribu kali itu.
Ibrahim
al Faqi menjelaskan bahwa lebih dari 80 % pemikiran sesorang bersifat negative
dan 20 % pemikiran seseorang bersifat positif itu artinya dalam sehari
seseorang berpikir negative sebanyak 48.000 kali dan sisanya 12.000 kali orang
berpikir positif dalam sehari.
Jadi pikiran atau persepsi orang tua terhadap anaknya akan bisa menjadi
kenyataan jika baik maka baiklah mereka, tapi jika buruk maka buruklah prilaku
mereka, maka sebagai orang tua agar senantiasa berkata yang baik (kalimatun
toyyibah) dan berpikiran yang positif terhadap anak-anak dan doakan mereka
setiap saat agar menjadi anak yang berbakti, jangan sampai sudah nakal baru
didoakan untuk jadi anak baik,doakanlah ia sejak masih masih dalam kandungan
karena sesungguhnya anak-anak sekarang akan hidup pada zaman yang edan di masa
yang akan datang.